Kamis, 25 November 2010

Warna Sosial masyarakat Indonesia


Tema : Pelapisan Sosial dan kosmopolitan

Pada dasarnya, di mata Tuhan semua manusia memiliki derajat dan martabat yang sama. Namun manusialah yang membuat standar-standar penghormatan dan penghargaan tertentu sehingga terbentuk lapisan-lapisan sosial dalam kehidupan masyarakat. Terbentuknya lapisan-lapisan sosial tersebut membawa konsekuensi pada berkembangnya anggapan tentang adanya lapisan sosial yang dipandang lebih tinggi, lapisan sosial yang dipandang berada dalam posisi menengah, dan lapisan sosial yang dipandang lebih rendah dari lapisan-lapisan sosial lainnya.
Tinggi rendahnya seseorang dalam sebuah sistem pelapisan sosial tergantung  pada status sosial yang dimiliki. Status sosial yang disandang oleh seseorang diperoleh berdasarkan penilaian dan pengakuan dari masyarakat yang ada di lingkungan sekitarnya. Dalam hubungan ini, sosiolog Talcott Parsons menyebutkan adanya lima kriteria yang dapat dijadikan dasar untuk menentukan tinggi rendahnya status sosial seseorang, yakni :
(1) kelahiran, seperti: ras, jenis kelamin, kebangsawanan, dan sebagainya,
(2) kualitas atau mutu pribadi, seperti: kecerdasan, kebijaksanaan, kekuatan, keterampilan, dan sebagainya,
(3) prestasi, yakni karir seseorang dalam bidang pendidikan, jabatan, usaha, dan lain sebagainya, (4) kepemilikan atau kekayaan, yakni pencapaian seseorang dalam mengumpulkan harta kekayaan, dan
(5) kekuasaan dan wewenang, yakni besar kecilnya kemampuan seseorang dalam mempengaruhi orang lain.
Bagi bangsa Indonesia, setidaknya terdapat dua indikator utama yang menyebabkan terjadinya perubahan dalam sistem pelapisan sosial, yakni:
(1) sistem kolonialisme dan imperialisme yang menginjak-injak kemerdekaan dan kedaulatan bangsa, baik dalam bidang sosial, ekonomi, politik, maupun kebudayaan, dan
(2) industrialisasi yang dilaksanakan sebagai suatu upaya dalam menggalakkan pembangunan di tanah air. Dua indikator utama tersebut sedikit banyak telah merubah sistem nilai dan sistem norma dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat yang pada gilirannya telah memunculkan sistem pelapisan sosial yang baru yang berbeda sama sekali dengan sistem pelapisan sosial yang ada sebelumnya.
Bangsa Indonesia patut bersyukur karena telah dianugrahi berbagai kelebihan, seperti:  kekayaan sumber daya alam (SDA) yang melimpah ruah, posisinya yang sangat strategis, yakni berada pada jalur persimpangan dunia, dan lain sebagainya. Beberapa kelebihan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia tersebut telah menarik perhatian negara-negara di dunia sejak ratusan tahun yang lalu hingga sekarang. Akibatnya, selama ratusan tahun kemerdekaan dan kedaulatan bangsa Indonesia untuk mengatur negerinya sendiri diinjak-injak oleh kaum kolonialis dan kaum imperialis yang serakah. Kaum kolonialis dan kaum imperialis dari Portugis, Spanyol, Inggris, Belanda, dan Jepang pernah merampas kemerdekaan dan kedaulatan bangsa Indonesia. Dari sekian banyak negara yang pernah menginjakkan kaki dan menjajah bangsa Indonesia tersebut, bangsa Belandalah yang paling lama, yakni sekitar 350 tahun.
Dalam keadaan seperti itu, lambat laun kaum kulak dapat menyaingi para bekel atau lurah yang merupakan penguasa tertinggi di desa. Bahkan, dalam perkembangan berikutnya, kaum kuli kenceng yang telah berkembang menjadi kaum kulak tersebut menjadi golongan priyayi yang mendapat penghormatan dan penghargaan yang sangat tinggi dalam pandangan masyarakat Jawa pada saat itu. Pola-pola yang dikembangkan oleh kaum kolonialis dan kaum imperialis di Indonesia telah membuat terciptanya struktur masyarakat baru, yang terdiri dari :
1. Lapisan masyarakat kelas 1
Terdiri dari orang-orang Belanda ditambah dengan kaum bangsawan dan kaum kuli kenceng yang telah naik statusnya menjadi kaum priyayi, setingkat dengan kaum bangsawan.
2. Lapisan masyarakat kelas 2
Terdiri dari orang-orang Tionghoa yang meraih sukses dalam menjalankan kegiatan perdagangan di Indonesia.
3. Lapisan masyarakat kelas 3
Terdiri dari orang-orang pribumi (penduduk asli Indonesia).
Lapisan masyarakat kelas 1 dan kelas 2 merupakan minoritas tetapi memiliki fungsi dan peran yang sangat dominan dalam berbagai bidang kehidupan, baik politik, ekonomi, sosial, maupun kebudayaan. Sedangkan lapisan masyarakat kelas 3 merupakan mayoritas, namun berposisi sebagai kelompok yang tertindas yang tidak mampu berbuat banyak terhadap lapisan masyarakat kelas 1 dan kelas 2 yang menginjak-injak harkat dan martabat kemanusiaannya. Dalam sistem pelapisan sosial tersebut, Belanda mengembangkan tradisi hubungan kawulo-gusti. Rakyat jelata harus memberikan penghormatan dan penghargaan yang setinggi-tingginya terhadap orang-orang Belanda, para bangsawan dan para priyayi, termasuk terhadap orang-orang Cina. Hubungan kawulo-gusti tersebut sengaja diciptakan dalam rangka pelaksanaan politik pecah belah dan kuasai (devide et impera). Dengan cara seperti itulah sistem kolonialisme dan sistem imperialisme yang diterapkan oleh Belanda mampu bertahan lama di Indonesia.

Referensi 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar